Tampilkan postingan dengan label untuk kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk kita. Tampilkan semua postingan

Bencana

Kutanyakan pada bintang, pada rembulan, pada matahari... semuanya bisu..tidak ada yang bisa menjawab, kemudian kutanyakan pada diriku sendiri, kutanyakan pada orang lain, kutanyakan pada bangsa...semuanya terdiam... tidak mau menjawab, termasuk diriku sendiri. Yang kutanyakan sangat sederhana, mengapa kita selalu tertimpa bencana. Bencana ideologi, bencana politik, bencana ekonomi, bencana budaya, bencana keamanan dan pertahanan dan sejuta bencana lainnya.
Bencana ideologi... anak-anak bangsa kita lebih suka dengan ideologi bangsa lainnya ketimbang ideologi bangsanya sendiri, mulai dari sikap, perilaku, tindakan dan gaya hidup sehari-hari, tidak lagi ada rasa malu, tidak lagi menghormati orang lain, intoleransi, brutal, tidak etis baik dalam ucapan maupun tindakan. Bencana politik, kebijakan publik tidak lagi mengedepankan kepentingan rakyat/mensejahterakan rakyat, namun cenderung mengedepankan kepentingan kelompoknya, yang pada akhirnya konflik horizontal dan vertikal tak terelakkan lagi, hanya karena mencari dan mempertahan kekuatan dan kekuasaan. Regulasi yang dibuat tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Bencana ekonomi, konsumerisme masyarakat menjadi alasan untuk memperluas cengkraman sistem kapitalisme, kepentingan umum dikonversikan menjadi kepentingan orang berduit, koperasi hanya dijadikan jargon politik penguasa negeri ini, yang terjadi di masyarakat adalah rentenir yang berkedok koperasi dan badan usaha milik orang kaya, eksesnya adalah manipulasi, kolusi, korupsi dan sejuta dalih lain untuk mendapatkan materi. Bencana budaya, kearifan lokal, social capital tidak lagi dapat diaktualisasikan oleh generasi muda bangsa ini, mereka lebih bangga dengan gaya hidup kebarat-baratan, budaya sendiri seringkali dilupakan dan lebih prestisius dengan budaya asing, dengan dalih untuk menyalurkan hoby dan bakat malah membuat orang lain resah, group/geng/dan ikatan-ikatan lainnya hanya dijadikan alasan untuk berekspresi semata. Bencana pertahanan dan keamanan, pencurian ikan, kayu, minyak bumi dan gas, barang tambang dan mineral, kenapa dibiarkan terus menerus terjadi, inilah ekses dari sistem kapitalisme yang merambah seluruh negeri ini. Bencana lainnya, kapal tenggelam, kecelakaan kereta api , tabrakan bus, sepeda motor/mobil, terjadi dimana-mana, ironisnya orang lagi nongkrong di pinggir jalan atau dirumah saja sudah tidak merasa aman, karena takut diseruduk mobil. Kenapa bangsa ini selalu kena bencana...dan bencana...Mari kita mawas diri kedalam mawas diri keluar...

Menurunnya nilai-nilai kejuangan bangsa

Tiada hari tanpa berita konflik/tawuran antar pelajar atau mahasiswa/antar suporter sepakbola/tawuran antar warga yang berbeda kampung dan sejuta berita lain di Media massa baik cetak/elektronik menjadi konsumsi bangsa Indonesia. Apakah itu sebuah gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya, belum lagi kaum pelajar di sebuah kota di Jawa Barat pada acara yang digelar oleh salah satu parpol di kota tersebut yang menggelar teaterikal dengan adegan menginjak-nginjak lambang bangsa Indonesia. Terlepas apakah kain tersebut bekas/baru, tapi substansinya merah putih adalah lambang/simbol kenegaraan/kebangsaan yang dijamin oleh konstitusi. Kemajuan Iptek dengan segala eksesnya membawa pola sikap, pola tindak, pola pikir masyarakat Indonesia semakin menurunkan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia. Menurunnya semangat kebhinekaan dan rasa persatuan dan kesatuan yang mengarah pada disintegrasi bangsa serta banyaknya pelanggaran hukum memperparah kondisi bangsa. Nilai-nilai kejuangan seperti harga diri bangsa, solidaritas, persatuan dan kesatuan, patriotisme, heroisme, percaya diri, tak kenal menyerah, tahan menderita, pantang mundur, senasib sepenangungan, setia kawan, nasionalisme, cinta tanah air, tidak lagi diaktualisasikan/diekspresikan oleh bangsa ini, dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan, gangguan, dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar. Jika kondisi ini terus berlangsung bagaimana dengan nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dimasa yang akan datang ? jawabannya.... kita internalisasikan kembali nilai-nilai kejuangan bangsa ini melalui berbagai metode edukasi secara berjenjang baik di kalangan elit politik, birokrat, LSM, Polri/TNI, Ormas, lembaga pendidikan, masyarakat dari strata bawah sampai strata atas, diplomat, masyarakat adat. Hedonisme No !! Nasionalisme Yes !!

Selamat Datang

Selamat Datang bobotoh dunia maya !!!!

Selamat Datang di dunia yang penuh daya tipu, kebohongan, penuh intrik, dalih kebenaran, kepentingan umum/rakyat dan sejuta predikat lainnya yang melekat pada pribadi yang dihiasi simbol/semboyan/lambang yang mencitrakan kebaikan/kebenaran/kejujuran. Namun semua itu akan sirna tatkala pribadi-pribadi yang dihiasi dengan predikat tadi berbanding terbalik dalam perilaku dunia nyata. Kita saksikan diseputar kita berkat kecanggihan teknologi informasi, saudara kita yang sama-sama sahadat dan sholatnya saling baku tembak (Lybia), yang sudah lama menjalankan sholat shahadatnya baru sekarang (JAI), yang taat sholat matanya tidak sholat (DPR), yang ngurus sepakbola matanya ketutup bola sering tawuran, belajar tinju di lapangan sepak bola, suap wasit, yang cantik penuh dengan daya tipu/tipu daya, yang ditgaih utang dihabisi nyawanya...dan banyak lagi kasus dan peristiwa di seputar kita..mau seperti apa dunia kita. Bagaimana dengan kita ? coba kita renungkan.....
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat !!!