Nilai-Nilai Luhur Bangsa "Quo Vadis"

Unknown Sabtu, 07 April 2012

Istilah “Quo Vadis”   sering dimaknai sebagai Mau Kemana/mau dikemanakan ? , kata yang mengandung makna “pertanyaan” perlu mendapat jawaban dan alasan yang menjadi latar belakang munculnya pertanyaan dimaksud. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada siapa, apakah kepada pejabat negeri ini..! elit politik…! Penegak hukum…! Atau kepada kita semua anak bangsa.

Nilai seringkali dikaitkan dengan istilah dalam filsafat, karena nilai merupakan salah satu kajian dalam filsafat. Istilah nilai dalam filsafat digunakan untuk menunjuk kata benda yang abstrak artinya “keberhargaan” (worth) atau kebaikan (goodness), dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan dalam menilai atau melakukan penilaian, (Frankena, dalam Kaelan 2010:87). Dalam konteks sosiologi nilai diartikan sebagai kemampuan yang dipercayai yang ada suatu benda untuk memuaskan manusia. Jadi nilai pada khakekatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, sesuatu itu mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu. Misalnya, bunga itu indah, perbuatan itu susila. Indah dan susila adalah sifat atau kualitas yang melekat pada bunga dan perbuatan. Oleh karena itu, nilai adalah suatu kenyataan yang “tersembunyi” dibalik kenyataan-kenyataan lainnya. Ada nilai itu karena adanya kenyataan-kenyataan lain sebagai pembawa nilai. 

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Ada tiga hal yang terkait dengan nilai budaya  yaitu : Simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata . Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut; Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).
Contoh nilai budaya lain dalam meraih cita-cita nasionalnya
  1. Nilai Budayalah yang membuat bangsa Jepang cepat bangkit sesudah kekalahannya dalam Perang Dunia II dan meraih kembali martabatnya di dunia internasional. 
  2. Nilai Budayalah yang membuat bangsa Vietnam tidak bisa ditaklukkan, bahkan mengalahkan dua bangsa yang secara teknologi dan ekonomi jauh lebih maju, yaitu Perancis dan Amerika. 
  3. Kekuatan Nilai Budayalah yang membuat Korea Selatan sekarang jauh lebih maju dari Indonesia, walaupun pada tahun 1962 keadaan kedua negara secara ekonomi dan teknologi hampir sama. 
  4. Kekuatan Nilai Budayalah yang membuat para pejuang kemerdekaan berhasil menghantar bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannya (Gedhe Raka, 1997 ). 
Mau Kemana Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia? Ya.. Indonesia yang kaya raya sumberdaya alamnya  dan subur, sehingga dikatakan orang sebagai jamrut khatulistiwa, karena kesuburannya, tongkat dan kayupun jadi tanaman. Namun ironis bngsanya masih banyak yang miskin. Masyarakat agraris yang dibangga banggakan di buku sejarah sekolah dasar ternyata hanyalah isapan jempol oleh mahasiswa kritis. Tetapi Indonesia memang rajanya membuat istilah, kalo di luar negeri kita kenal istilah ekonomi liberal dan sosialis, di Indonesia dikenal dengan ekonomi kerakyatan, meskipun secara sumir sangat jelas bahwa ekonomi kerakyatan itu, identik dengan ekonomi sosialis. Ketidak mampuan bagi pejabat kita untuk mengambil keputusan menjadi bencana bagi bangsa ini, karena kita tidak pernah berani mengambil keputusan untuk memilih, kita hanya berani berada di tengah tengah. Nilai budya bangsa mulai luntur dan berdampak pada bencana diberbagai segi kehidupan, mulai dari krisi moral, krisis politik, ekonomi/moneter, krisis kepercayaan (distrust), kekerasan, konflik antar golongan/ras/agama/antar daerah, konflik antar parpol, masyarakat dengan pemerintah di daerah,


Pengaruh global

Eksistensi suatu bangsa  di era globalisasi mendapat tantangan yg sangat kuat, terutama krn pengaruh kekuasaan int.Berger dlm The Capitalis Revolution, era globalisasi dewasa ini ideologi kapitalislah yg akan menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah masyarakat satu persatu dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga nasib, sosial, politik dan kebudayaan. Perubahan global ini menurut Fukuyama (1989: 48), membawa perubahan suatu ideologi, yaitu dari ideologi partikular ke arah ideologi universal dan dalam kondisi seperti ini kapitalismelah yang akan menguasainya. Jika pendapat kedua pakar tadi kita renungkan sejenak dan melihat kenyataan di masyarakat kita yang sebenarnya, tidak dapat kita pungkiri, realitas social bangsa ini terindikasikan kearah yang disebutkan oleh kedua pakar tadi, artinya kita perlu mempelajari kembali sejarah perjuangan bangsa, perlu menggali kembali nilai-nilai luhur bangsa.
Indonesia sebagai Negara bangsa, Indonesia adalah negara Multibudaya , sejak dahulu  masyarakatnya  terdiri dari berbagai suku bangsa  yang beragam budaya, bahasa  dan agama. Sejalan dengan arus globalisasi berbagai budaya  asing yang ditopang oleh teknologi informasi masuk ke alam pengetahuan masyarakat Indonesia. Budaya asing itu lambat laun  mendominasi tata hidup masyarakat indonesia, mengalahkan budaya lokal, sehingga bangsa Indonesia dikhawatirkan kehilangan jati dirinya. Indonesia setelah merdeka lebih 60 tahun telah banyak meraih kemajuan di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan keagamaan. Kemajuan tersebut juga ditandai oleh pengakuan internasional. Stamina spiritual dan intelektual bangsa ini tidaklah kalah bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Namun energi yang positif itu sampai batas tertentu terbuang sia-sia karena ketidak sungguhan dan berbagai kesalahan kolektif , yang terkait dengan melemahnya visi dan Nilai Budaya bangsa.kelemahan Nilai Budaya bangsa menjadi beban nasional yang berat ketika berakumulasi dengan berbagai persoalan internal yang kompleks, seperti kemiskinan, pengangguran, kebodohan, keterbelakangan, korupsi, kerusakan lingkungan, utang luar negeri, dan perilaku elite yang tidak menunjukkan keteladanan. Nilai Budaya bangsa semakin menurun dengan adanya faktor eksternal seperti intervensi kepentingan asing dan dampak krisis global dalam berbagai aspek kehidupan. Tantangan yang paling berat bangsa kita saat ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah; Menipisnya nasionalisme, lunturnya semangat gotong-royong,  menguatnya ikatan2 primordial, merajalelanya tindakan-tindakan kekerasan  dll, bahaya lagi suatu saat  manusia Indonesia menjadi manusia “marginal”
Nilai-nilai luhur bangsa
Sejak Proklamasi kemerdekaan 1945, secara eksplisit bangsa Indonesia telah memiliki cita-cita (Visioner), yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu dan berdaulat, adil dan makmur. Nilai cita-cita tersebut perlu diimplementasikan dalam bentuk regulasi dan kebijakan lain dari pemerintah, untuk mengejawantahkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Cita-cita nasional dan falsafah bangsa yang ideal itu perlu ditransformasikan ke dalam visi nasional dan Nilai Budaya yang dapat diwujudkan ke dalam sistem kehidupan berbangsa dan bernegara.Dalam falsafah dan ideologi negara terkandung ciri keindonesiaan yang memadukan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan (humanisme religius). Nilai-nilai tersebut tercermin dalam hubungan individu dan masyarakat, kerakyatan dan permusyawaratan, serta keadilan dan kemakmuran. Nilai-nilai dasar kebangsaan Indonesia bersumber dari nilai-nilai budaya yang dimiliki bangsa kita. Semangat kebangsaan adalah adalah penggerak nilai-nilai yang terdapat di dalam jiwa dan menjadi ruh bangsa Indonesia. Nilai dasar kebangsaan itu statik, sedangkan nilai yang  bergerak terus yang menjadi pendorong semangat kebangsaan adalah nilai instrumental atau nilai praksis yang senantiasa dapat disesuaikan dengan konteks dan situasi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia setiap saat. Oleh sebab itu semangat kebangsaan inilah yang senantiasa harus terus menerus kita upayakan. Nilai kebangsaan yang secara umum terdapat pula dalam nilai-nilai budaya masyarakat suku bangsa Indonesia tersebut, dijadikan tali pengikat atau simpai yang menjalin persatuan berbagai suku bangsa tersebut menjadi satu bangsa. Usaha menjalin persatuan bangsa Indonesia  yang membingkai persatuan menjadi satu bangsa yang merdeka dan berdaulat adalah melalui pendidikan.
Kenyataan dalam kehidupan bangsa
Krisis Nilai Budaya manusia Indonesia ditunjukkan dengan  premanisme (act of self distruction) yang semakin kuat. Ada kecenderungan pada masyarakat kita kurang mengembangkan potensi daya saing secara optimal dibandingkan dengan bangsa lainnya. Ada kecenderungan menguatkan konflik horisontal yang melemahkan integrasi bangsa seperti halnya ; kasus Trisakti , kasus “Koja Priok”, Kasus Ambon, Ahmadiyah, kasus Mesuji, kasus Bima dll. Hal ini  terjadi karena makin memudarnya nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup semangat dan kesediaan untuk bertumbuh kembang bersama, secara damai dalam kebhinekaan. Memudarnya rasa dan ikatan kebangsaan, Disorientasi nilai keagamaan, Memudarnya kohesi dan integrasi sosial,Melemahnya mentalitas positif.  Oleh karena itu, dalam kehidupan bangsa Indonesia diperlukan penguatan rasa kebangsaan, keber-agama-an yang transformatif, integrasi sosial, dan penanaman nilai-nilai kepribadian yang kuat dan Nilai Budaya Bangsa, nilai budaya bangsa itu tercermin dalam sikap, tindakan, perilaku, aktualisasi diri yang mengedepankan nilai-nilai manusia yang selaras hubungannya dengan  Tuhan YME, sesama manusia dan alam lingkungannya. Transformasi Nilai Budaya Bangsa itu dapat dilakukan melalui Pendidikan formal, non formal dan informal.
Dalam filosofi suku bangsa Sunda dikenal dengan nilai-nilai kehidupan sbb;
1.       Relijius;   yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian taat beribadah, jujur, terpercaya, dermawan, saling tolong menolong, dan toleran;  ( Bener)
2.        Moderat; yang dicirikan oleh sikap hidup yang tidak radikal dan tercermin dalam kepribadian yang tengahan antara individu dan sosial, berorientasi materi dan ruhani, serta mampu hidup dan kerjasama dalam kemajemukan; (Bageur)
3.       Cerdas;  yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian yang rasional, cinta ilmu, terbuka, dan berpikiran maju; (Pinter)
4.       Mandiri; yang dicirikan oleh sikap hidup dan kepribadian merdeka, disiplin tinggi, hemat, menghargai waktu, ulet, wirausaha, kerja keras, dan memiliki cinta kebangsaan yang tinggi tanpa kehilangan orientasi nilai-nilai kemanusiaan universal dan hubungan antarperadaban bangsa-bangsa. (singer)
Nilai-Nilai Pendukung Transformasi  Budaya Bangsa
1.       Nilai Spiritualitas ini menampilkan keberagamaan berkemajuan, yaitu keberagamaan yang berorientasi kepada etika atau akhlak, dan penyeimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Nilai Budaya untuk hidup berkebudayaan yang maju dan unggul. Nilai Budaya yang demikian dapat ditampilkan dalam idiom “taat beragama, maju berbudaya”. (taat agamana, maju budayana) ;
2.       Kemajuan bangsa terkendala oleh lemahnya disiplin terhadap waktu dan norma hukum yang berlaku. Kebiasaan yang tidak positif ini perlu diubah menjadi Nilai Budaya bangsa yang menghargai waktu sehingga mendorong produktifitas dan daya saing, serta mematuhi norma-norma hukum untuk terwujudnya ketertiban sosial serta menghindari tindak kekerasan dan kecenderungan main hakim sendiri.
3.       Solidaritas ini diharapkan mengejawantah dalam bentuk kesetiakawanan sosial dan toleransi terhadap perbedaan. Selain itu, solidaritas kebangsaan menampilkan orientasi yang mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau golongan. Perlu ditanamkan kebiasaan untuk hidup berdampingan secara damai atas dasar saling memahami, saling menghormati, dan saling tolong menolong untuk kepentingan dan kemajuan bersama.    (ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak)
4.       Kini saatnya dikembangkan Nilai Budaya bangsa yang menghilangkan rasa rendah diri untuk menjadi bangsa yang memiliki kepercayaan diri untuk berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain.
5.       Ketergantungan baik individu maupun masyarakat mengakibatkan kurang percaya diri dan mengurangi kebebasan berkreasi, ekspresi, inovasi dan mengekang kebebasan berpendapat ;
6.       Bangsa Indonesia sebagai bangsa besar dan kaya dengan sumber daya alam memiliki peluang untuk bangsa maju dan unggul. Karena itu diperlukan Nilai Budaya yang berorientasi kepada prestasi dengan semangat kerja keras. Dalam hal ini dapat ditanamkan semangat kepada segenap anak bangsa, bahwa “kita mampu jika kita mau” dan “mengapa tidak menjadi yang terbaik?”.






Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat !!!